Literasi Informasi di Era Digital: Kunci Menangkal Hoaks dan Disinformasi
Pendapat Heriyanto, S.Sos., M.IM., Ph.D. (heriyanto@live.undip.ac.id)
Di era digital yang semakin berkembang, literasi informasi menjadi keterampilan yang sangat penting bagi masyarakat dalam memilah dan memahami informasi yang diterima. Tim Humas FIB Undip berkesempatan mewawancarai Pak Heriyanto, S.Sos., M.IM., Ph.D., selaku Kepala Program Studi Ilmu Perpustakaan FIB Undip, untuk membahas kepakarannya dalam literasi informasi dan open access.
Literasi Informasi: Kemampuan Memilah dan Memahami Informasi
Menurut Pak Heriyanto, literasi informasi memiliki dua sudut pandang utama. Pertama, kemampuan memahami informasi, baik informasi berupa teks, gambar, atau audio visual. Masyarakat perlu bersikap kritis terhadap informasi yang beredar. Validasi menjadi langkah penting dalam menentukan apakah informasi tersebut valid dan akurat, termasuk memverifikasi sumber informasi tersebut, missal siapa profil pencetus informasi, media apa yang digunakan.
Saat ini dibidang Ilmu Perpustakaan, literasi informasi juga mencakup pengalaman seseorang dalam menggunakan informasi. Misalnya bagaimana sebuah informasi dapat mempengaruhi pendapat, pengambilan keputusan, hingga tindakan seseorang dalam kehidupan akademis, pekerjaan, bisnis, politik, ataupun dalam kehidupan sehari-hari.
“Di Prodi Ilmu Perpustakaan, kami sedang memahami literasi informasi sebagai pengalaman seseorang dalam berinteraksi dengan informasi. Sejauh mana informasi itu berpengaruh terhadap pola pikir dan keputusan seseorang,” jelasnya.
Open Access: Gerakan Akses Informasi Terbuka
Selain literasi informasi, Pak Heriyanto juga membahas open access, yaitu konsep di mana informasi akademik, seperti jurnal dan database ilmiah, dapat diakses secara terbuka tanpa ada hambatan biaya.
“Di bidang perpustakaan dan informasi, ada yang disebut Open Access Movement, yaitu gerakan yang menjembatani kesenjangan akses informasi bagi mereka yang tidak memiliki akses terhadap sumber daya berbayar,” terangnya.
Universitas Diponegoro sendiri telah berinvestasi besar dalam langganan jurnal dan database ilmiah. Namun, dengan adanya open access, komunitas akademis Undip memiliki lebih banyak akses ke berbagai macam sumber informasi.

Heriyanto, S.Sos., M.IM., Ph.D.
Kaprodi Ilmu Perpustakaan FIB Undip
Tantangan Literasi Informasi di Era Digital
Di era digital saat ini, di mana media sosial dan kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat, literasi informasi menjadi semakin relevan. Gen Z dan generasi sebelumnya sama-sama menjadi konsumen informasi di media sosial dan sama-sama memiliki potensi untuk menjadi korban dari information overload. Oleh karena itu, tantangan utama yang muncul adalah kemampuan memilah informasi yang valid dan relevan dengan kebutuhan.
“Kita sebagai konsumen informasi harus waspada karena setiap informasi yang dibuat memiliki motif tertentu dari si pembuat informasi,” ungkapnya.
Ia mencontohkan fenomena selama pandemi COVID-19, di mana banyak orang langsung percaya dan bereaksi terhadap informasi tanpa memverifikasinya terlebih dahulu.
“Dulu, saat pandemi, hampir semua berita langsung dipercaya begitu saja tanpa diverifikasi. Sehingga dulu muncul fenomena ‘panic buying’. Sekarang, dengan kemajuan AI, kita bahkan bisa melihat foto, video, suara seseorang yang mungkin sebenarnya adalah buatan AI,” tambahnya.
Peran Pendidikan dalam Literasi Informasi
Menurut Pak Heriyanto, literasi informasi juga berperan dalam pendidikan. Di Prodi Ilmu Perpustakaan Undip, mahasiswa tidak hanya mempelajari manajemen perpustakaan, tetapi juga memiliki fungsi edukasi dalam menyampaikan literasi informasi kepada masyarakat.
“Mahasiswa belajar mendesain modul Pendidikan literasi informasi yang dapat diterapkan ke berbagai kelompok masyarakat, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga masyarakat umum,” ujarnya.
Literasi informasi bukan sebuah ekslusifitas profesi tertentu, namun keterampilan ini sangat penting bagi para pengelola informasi, jurnalis, bahkan influencer. Mereka harus memastikan bahwa informasi yang disebarkan bermanfaat, akurat, dan tidak menyesatkan.
Di tengah derasnya arus informasi, literasi informasi dan open access menjadi aspek penting dalam membangun masyarakat yang lebih kritis dan cerdas dalam mengelola informasi. Pak Heriyanto, S.Sos., M.IM., Ph.D., menegaskan bahwa kesadaran untuk memilah informasi dan memahami motif di baliknya adalah kunci utama dalam menghadapi era digital yang penuh dengan potensi disinformasi.
Dekan FIB Undip, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum. mendukung kajian serta hal-hal baik yang dilakukan untuk FIB Undip termasuk kiprah program studi Ilmu Perpustakaan.
Dengan pendidikan yang tepat dan pemanfaatan sumber daya informasi terbuka, masyarakat dapat lebih mandiri dalam mencari informasi yang akurat dan bertanggung jawab dalam menyebarkannya.