Alumni FIB Undip, Ahmad Khairudin Direktur dan Salah Satu Pendiri Grobak Hysteria.
Alumni FIB Undip, Ahmad Khairudin Direktur dan Salah Satu Pendiri Grobak Hysteria.

FIB UNDIP – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) kembali menghadirkan kisah inspiratif dari alumninya dalam segmen Success Story Alumni FIB Undip.

Sosok kali ini adalah Ahmad Khairudin, atau yang akrab disapa Mas Adin, seorang seniman sekaligus penggerak budaya yang kini dikenal sebagai Direktur dan salah satu pendiri Grobak Hysteria, komunitas kreatif yang sudah dua dekade konsisten bergerak di bidang kebudayaan, seni, dan pemberdayaan masyarakat.

Berawal dari FIB Undip: Dari Teater EMKA ke Gerakan Budaya

Mas Adin adalah alumni Program Studi Sastra Indonesia FIB Undip angkatan 2004. Semasa kuliah, ia aktif di Teater EMKA (Emperan Kampus), wadah ekspresi mahasiswa seni dan sastra yang kerap menjadi ruang kreatif bagi berbagai ide kebudayaan.

Melalui aktivitas di teater dan berbagai mata kuliah yang berhubungan dengan budaya, sastra, dan masyarakat, benih-benih pemikiran tentang pentingnya pelestarian kebudayaan mulai tumbuh dalam dirinya.

“Banyak mata kuliah di FIB yang menginspirasi saya membentuk Hysteria. Di kampus, saya belajar bagaimana budaya bisa menjadi alat refleksi sosial,” ungkapnya.

Menurut Mas Adin, pengalaman akademik dan kegiatan kampus di FIB Undip memberinya fondasi kuat untuk memahami hubungan antara teori dan praktik budaya di lapangan.

“Dari FIB saya belajar bahwa kebudayaan bukan hanya untuk dipelajari, tapi untuk dihidupi,” tambahnya.

Lahirnya Grobak Hysteria: Dari Ruang Kampus ke Ruang Sosial

Grobak Hysteria lahir dari semangat kolektif mahasiswa budaya yang ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap seni dan budaya. Awalnya, komunitas ini berangkat dari kampus, dengan banyak pendirinya merupakan mahasiswa FIB Undip yang punya keresahan terhadap minimnya ruang ekspresi budaya di masyarakat.

Seiring waktu, Hysteria berkembang menjadi lembaga berbasis komunitas yang menggabungkan pengetahuan teoritis dan aksi sosial, dari kegiatan seni publik hingga riset budaya berbasis warga.

Salah satu proyek terkenalnya adalah riset pengetahuan sehari-hari Kampung Bustaman pada tahun 2012. Proyek ini menggali ingatan kolektif masyarakat setempat untuk memantik kesadaran sosial dan mengembalikan hasil riset kepada warga sebagai bentuk apresiasi terhadap sejarah dan budaya lokal.

“Bagi saya, Hysteria adalah ruang eksperimen dan ekspresi budaya. Ini bukan sekadar perjalanan organisasi, tapi perjalanan cinta terhadap kebudayaan,” ujar Mas Adin.

Cinta Budaya dan Gerakan yang Hidup

Bagi Mas Adin, kebudayaan bukan sekadar konsep atau wacana akademik. Ia adalah jalur kehidupan, ruang untuk berekspresi, belajar, dan mengikat manusia dalam nilai-nilai sosial. Melalui Grobak Hysteria, ia membuktikan bahwa budaya bisa menjadi jembatan antara masyarakat dan pengetahuan, antara seni dan realitas sosial.

Hysteria juga dikenal sebagai ruang “hangout budaya”, tempat orang-orang lintas latar belakang berkumpul, berdiskusi, dan berkreasi. “Kebudayaan itu harus hidup, dan kehidupan itu harus punya ruang untuk berinteraksi,” katanya

Pesan untuk Mahasiswa FIB Undip

Menutup kisahnya, Mas Adin menyampaikan pesan hangat untuk mahasiswa FIB Undip agar tidak berhenti berproses dan bereksperimen.

“Lakukan sesuatu dengan sukacita. Jangan menutup diri terhadap lingkungan, dan terus bergerak. Karena dari gerak, kita bisa menemukan makna baru dari kebudayaan,” pesannya.

Melalui kisah Ahmad Khairudin, FIB Undip kembali menegaskan perannya sebagai fakultas yang tidak hanya mencetak akademisi, tetapi juga pelaku kebudayaan yang mampu menghidupkan nilai-nilai humaniora di tengah masyarakat. Seperti Mas Adin, para alumni FIB Undip terus membuktikan bahwa sastra dan budaya adalah kekuatan untuk membangun manusia, masyarakat, dan bangsa.

Share This!