
FIB UNDIP – Tidak semua perjalanan sukses dimulai dari rencana awal. Begitulah kisah Haryono Agus Setiawan, M.A., alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB UNDIP), yang kini menjabat sebagai Kepala Kantor Wilayah Imigrasi Provinsi Jawa Tengah. Ia membuktikan bahwa latar belakang sastra bukanlah penghalang untuk berkarier di bidang hukum dan pemerintahan.
Dalam segmen Success Story Alumni FIB Undip, Haryono berbagi cerita inspiratif tentang bagaimana pengalaman kuliah di FIB Undip menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter dan kompetensinya hingga mencapai posisi strategis di Kementerian Hukum dan HAM.
Dari Cita-Cita Dokter ke Dunia Sastra
Menariknya, Haryono awalnya tidak pernah membayangkan akan berkuliah di bidang sastra. “Dulu saya sebenarnya ingin masuk kedokteran,” ujarnya sambil tersenyum mengenang masa lalu.
Namun takdir membawanya ke Fakultas Sastra Undip (sekarang FIB Undip), dan dari sanalah perjalanan hidupnya mulai berubah arah.
Ia mengambil Program Studi Sastra Inggris, Kajian Amerika, dan mulai menemukan ketertarikannya pada ilmu bahasa, budaya, dan filsafat.
“Sastra itu tidak sekadar mempelajari bahasa, tetapi melatih kita berpikir kritis dan memahami kehidupan,” kenangnya. Mata kuliah filsafat menjadi salah satu favoritnya karena mengajarkan cara berpikir mendalam dan reflektif.
Aktif Berorganisasi Sejak Mahasiswa
Sejak semester dua, Haryono sudah aktif berorganisasi di kampus. Aktivitas itu melatih kemampuan komunikasi, kepemimpinan, dan jejaring sosial yang menjadi modal penting dalam kariernya di masa depan.
Ia menempuh studi di FIB Undip dari tahun 1991 hingga 1997, namun bahkan sebelum wisuda, ia sudah mulai bekerja di bidang property dan intellectual property (hak kekayaan intelektual). Dari pengalaman itulah, ia memahami pentingnya keterampilan lintas bidang—bahwa lulusan sastra juga bisa berkiprah di dunia hukum dan kebijakan publik.
Karier di Pemerintahan: Dari Bali ke Puncak Imigrasi
Setelah lulus, Haryono diterima sebagai CPNS di Kementerian Kehakiman dan ditempatkan di Bali. Latar belakangnya di Sastra Inggris dan kemampuan komunikasi lintas budaya membuatnya cepat beradaptasi dan menonjol. Tak lama kemudian, ia mendapat kesempatan mengikuti pendidikan pejabat imigrasi, yang menjadi awal karier panjangnya di bidang keimigrasian.
Semangat belajar Haryono tidak berhenti di situ. Ia melanjutkan pendidikan S2 di Jepang, mengambil jurusan Hubungan Internasional, untuk memperluas wawasan global dan memperdalam kemampuan diplomasi. Menurutnya, pengalaman belajar di luar negeri mengajarkannya banyak hal tentang kedisiplinan, budaya kerja, dan nilai-nilai profesionalitas.

Pesan untuk Mahasiswa FIB Undip
Dalam kesempatan tersebut, Haryono juga menyampaikan pesan berharga bagi mahasiswa FIB Undip. Ia menekankan pentingnya berpikir terbuka dan selalu melihat peluang positif.
“Jangan memblokir pikiran sendiri. Kesempatan itu selalu ada. Tidak semua pekerjaan akan langsung cocok, tapi semua tergantung dari bagaimana kita menyikapinya secara positif,” ujarnya.
Ia juga berharap agar FIB Undip terus mengembangkan sistem pembelajaran yang implementatif dan relevan dengan dunia kerja, termasuk memperkuat jejaring internasional.
“Di luar negeri, fakultas ilmu budaya memiliki posisi strategis. Semoga FIB Undip juga terus menjadi fakultas yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global,” tambahnya.
Bukti Nyata Lulusan FIB Bisa Kerja di Mana Saja
Kisah Haryono menjadi bukti bahwa latar belakang Sastra dan Ilmu Budaya tidak membatasi ruang gerak karier seseorang.
Justru, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan sensitivitas budaya yang diasah di FIB Undip menjadikannya sosok pemimpin yang tangguh dan humanis.
Dari cita-cita menjadi dokter, menekuni dunia sastra, hingga akhirnya memimpin lembaga penting di pemerintahan, perjalanan hidup Haryono Agus Setiawan mengajarkan satu hal sederhana namun bermakna:
“Kesuksesan bukan ditentukan dari di mana kita mulai, tapi dari seberapa jauh kita mau belajar, beradaptasi, dan memberi makna pada setiap langkah.”