FIB UNDIP – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) kembali mencatatkan prestasi gemilang melalui dua mahasiswanya dari Program Studi Antropologi Sosial angkatan 2024. Mereka adalah Al Khesya Putri Dilaga dan Mochamad Ridwan yang berhasil lolos sebagai delegasi dalam program internasional bergengsi di Singapura dan Malaysia pada akhir Mei 2025.
Meski sama-sama menginjakkan kaki di dua negara yang sama, Khesya dan Ridwan mengikuti program yang berbeda. Khesya terpilih dalam Changemaker Youth ASEAN Excursion Batch II: Chapter Singapore & Malaysia pada 26–30 Mei 2025, sementara Ridwan lolos sebagai delegasi International Youth Innovation Summit 2025 yang digelar pada 26–29 Mei 2025.
Misi Program Internasional: Membangun Generasi Muda Global
Kedua program ini memiliki tujuan besar, yakni mencetak generasi muda yang kritis, adaptif di lingkungan multikultural, dan aktif dalam isu-isu global. Selain meningkatkan rasa percaya diri, peserta juga dilatih untuk mengasah keterampilan komunikasi lintas budaya dan kepekaan sosial.
Tidak hanya itu, kegiatan ini juga membuka ruang bagi pemuda dari berbagai latar belakang untuk bertukar ide, memperluas jejaring profesional, hingga menciptakan inovasi nyata yang bermanfaat bagi komunitas lokal maupun internasional.
Prestasi Membanggakan dari Khesya dan Ridwan
Partisipasi Khesya dalam Changemaker Youth ASEAN membuka peluang baginya untuk membangun jejaring nasional dan internasional, sekaligus berdiskusi mengenai peran generasi muda dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). Dari ajang ini, Khesya berhasil meraih dua penghargaan, yaitu 3rd Best Media Presentation dan 3rd Best Group Ideas.
Sementara itu, Ridwan yang mengikuti International Youth Innovation Summit juga tampil cemerlang. Ia meraih tiga penghargaan sekaligus, yakni Most Favorite Delegate, 1st Best Project Innovation, dan 3rd Best Video Innovation.

Al Khesya Putri Dilaga dan Mochamad Ridwan
Pengalaman Internasional yang Berkesan
Baik Ridwan maupun Khesya sepakat bahwa pengalaman ini sangat berharga dalam memperluas perspektif global mereka. Ridwan menekankan pentingnya berpikir kritis dan berani menciptakan inovasi dari permasalahan sekitar.
“Ajang ini menjadi wadah untuk mengembangkan diri sekaligus berpikir kritis, bagaimana melihat celah dari kekurangan yang ada di sekitar dan mengubahnya menjadi sebuah inovasi yang bermanfaat,” ungkap Ridwan.
Sementara Khesya merasa momen paling berkesan adalah ketika mengikuti forum pertukaran budaya. “Saya bisa belajar langsung bagaimana pemuda dari berbagai negara, khususnya Singapura dan Malaysia, memandang tantangan global dari perspektif yang berbeda. Saya juga semakin sadar bahwa kolaborasi lintas budaya adalah kunci menciptakan perubahan nyata,” tuturnya.
Peran Strategis WCU FIB Undip dalam Mendukung Mahasiswa
Keberhasilan Khesya dan Ridwan tidak lepas dari dukungan penuh Fakultas Ilmu Budaya Undip melalui program World Class University (WCU). Dukungan tersebut tidak hanya berupa pendanaan, tetapi juga fasilitas, pembekalan, dan arahan dari pihak fakultas.
Program internasional seperti Changemaker Youth ASEAN dan International Youth Innovation Summit memang membutuhkan komitmen besar, kesiapan mental, dan biaya yang tidak sedikit. Kehadiran WCU menjembatani tantangan tersebut sehingga para delegasi bisa berfokus pada pengembangan ide, keterampilan komunikasi, dan misi membawa nama baik Undip di kancah global.
Inspirasi bagi Generasi Berikutnya
Prestasi yang diraih Khesya dan Ridwan menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa FIB Undip mampu bersaing dan menorehkan prestasi di tingkat internasional. Keikutsertaan mereka tidak hanya mengharumkan nama fakultas dan universitas, tetapi juga menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah ke panggung dunia.
Dengan semangat dan dukungan yang kuat, diharapkan lebih banyak mahasiswa FIB Undip yang termotivasi untuk mengeksplorasi potensi diri, membangun jejaring global, dan menjadi agen perubahan demi Indonesia yang lebih baik.