Kaprodi Sastra Indonesia FIB Undip di PROBSI Cendekia 2025.
Kaprodi Sastra Indonesia FIB Undip di PROBSI Cendekia 2025.

FIB UNDIP — Kepala Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro, Dr. Sukarjo Waluyo, S.S., M.Hum., menjadi salah satu pemakalah terpilih dalam Seminar Nasional (Semnas) dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PROBSI Cendekia 2025.

Kegiatan berskala nasional yang digelar di Hotel Elmi, Surabaya, ini mempertemukan para kaprodi, dosen, dan pakar Bahasa dan Sastra Indonesia dari seluruh Indonesia.

Tahun ini, PROBSI Cendekia mengusung tema besar “Menimbang Kampus Berdampak, Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia secara Kolaboratif–Partisipatif serta Optimalisasi Pemanfaatan Akal Imitasi (AI)”.

Tema ini berangkat dari kebutuhan dunia pendidikan untuk beradaptasi dengan perubahan kebijakan kementerian dan perkembangan teknologi yang bergerak begitu cepat.

Merespons Perubahan: Dari MBKM Menuju Kampus Berdampak

Dalam sambutan pembukaan, Ketua PROBSI Cendekia, Dr. Pujiharto, S.S., M.Hum., menyoroti dinamika baru dalam bidang humaniora setelah berakhirnya fokus Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM).

 Menurutnya, saat ini perguruan tinggi tengah diarahkan pada konsep Kampus Berdampak, yang menuntut program studi untuk menghasilkan karya, pengabdian, dan lulusan yang benar-benar memberi manfaat pada masyarakat.

Ia juga menyampaikan bahwa perubahan struktur kementerian turut memunculkan urgensi untuk membentuk LAM HUM, sebuah lembaga akreditasi khusus bidang humaniora.

“Karena perubahan situasi yang bergerak cepat, kita perlu mulai merumuskan standar bersama. LAM HUM ini menjadi kebutuhan yang semakin mendesak,” tegasnya.

Menguatkan Standar Pendidikan Humaniora

Sementara itu, Dekan FIB Universitas Airlangga, Syahrur Marta Dwi Susilo, S.S., M.A., Ph.D., yang membuka kegiatan, menekankan pentingnya merumuskan standar literasi digital dan capaian pembelajaran bersama.

Menurutnya, mahasiswa masa kini sudah sangat akrab dengan teknologi. Tantangan lembaga pendidikan bukan sekadar mengenalkan digitalitas, tetapi mengarahkannya agar menjadi alat yang mendukung pembelajaran yang lebih berkualitas.

“Forum seperti ini sangat dibutuhkan untuk menyatukan langkah dan merumuskan standar kompetensi lulusan, terutama menghadapi dunia digital yang terus berkembang,” ujarnya.

Dr. Sukarjo Waluyo: AI sebagai Mitra Pembelajaran, Bukan Ancaman

Pada sesi seminar nasional, Dr. Sukarjo Waluyo memaparkan makalah berjudul:

“Mengkaji Film Gadis Kretek dengan Pembelajaran Kolaboratif–Partisipatif, Pemanfaatan AI, dan Kunjungan Edukatif ke Magelang.”

Dalam paparannya, beliau menunjukkan bagaimana film, teknologi AI, dan pengalaman lapangan dapat dirangkai menjadi model pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan dekat dengan realitas sosial mahasiswa.

Ia juga menegaskan bahwa pemanfaatan AI dalam pembelajaran bukanlah sesuatu yang patut dihindari.

“AI pada akhirnya adalah alat bantu. Selama masih bermanfaat, AI akan terus dipakai. Yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya untuk memperkaya proses belajar,” jelasnya.

Film, AI, dan Pembelajaran Lapangan: Model Tiga Pilar

Makalah yang dipresentasikan Dr. Sukarjo merupakan hasil kegiatan akademik yang melibatkan dosen dan mahasiswa Sastra Indonesia FIB Undip di Muntilan dan Magelang beberapa bulan sebelumnya. Ada beberapa temuan penting dari penelitian tersebut:

1. Diskusi Berbasis Film Mendorong Keterlibatan Mahasiswa

Melalui FGD di SMA Negeri 1 Muntilan, film Gadis Kretek terbukti mampu menghubungkan tema besar seperti identitas budaya dan perjuangan sosial dengan pengalaman mahasiswa.

Diskusi menjadi lebih hidup dan inklusif, membuat mahasiswa aktif berpendapat dan memahami konteks budaya secara lebih mendalam.

2. AI Mendukung Personalisasi Belajar

Integrasi AI membantu mahasiswa memahami materi sesuai kebutuhan masing-masing melalui akses informasi cepat, umpan balik otomatis, hingga kuis adaptif.

Meski begitu, pembelajaran tetap membutuhkan sentuhan manusia, terutama dalam membahas nilai budaya dan interpretasi yang kompleks.

3. Kunjungan Edukatif Menguatkan Dimensi Realitas

Melalui kunjungan ke Magelang, mahasiswa dapat melihat langsung dinamika sosial dan budaya yang menjadi latar film.

Interaksi dengan komunitas lokal dan observasi proses produksi kretek memberi pengalaman belajar yang lebih utuh dengan menggabungkan teori dan realitas lapangan.

Forum yang Mempertemukan Gagasan dan Masa Depan

Semnas dan Rakernas PROBSI Cendekia 2025 menjadi ruang bertemunya gagasan-gagasan penting mengenai arah pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ke depan.

Melalui forum ini, para pendidik dari berbagai kampus dapat merumuskan langkah bersama untuk merespons perubahan zaman, memperkuat mutu pembelajaran, dan menyiapkan lulusan yang adaptif serta berdaya saing.

Kehadiran Dr. Sukarjo Waluyo sebagai pemakalah terpilih memperlihatkan komitmen FIB Undip dalam mendorong dosen dan prodi untuk terus berinovasi, berjejaring, dan mengambil peran aktif dalam perkembangan pendidikan nasional.

Share This!