Dr. Ken Widyatwati, S.S., M.Hum., Kaprodi S2 Susastra FIB Undip.
Dr. Ken Widyatwati, S.S., M.Hum., Kaprodi S2 Susastra FIB Undip.

FIB UNDIP – Tim Humas FIB UNDIP berkesempatan berbincang langsung dengan Dr. Ken Widyatwati, S.S., M.Hum., Dosen sekaligus Ketua Program Studi S2 Susastra FIB Undip yang dikenal memiliki kepakaran dalam Kajian Kebudayaan Sastra Lisan.

Melalui wawancara ini, beliau menjelaskan secara mendalam mengenai fokus kajiannya, relevansinya bagi masyarakat, dan peluang karier lulusan S2 Susastra yang ingin memperdalam bidang kebudayaan.

Memahami Kajian Kebudayaan dalam Sastra Lisan

Dr. Ken menjelaskan bahwa sejak menempuh pendidikan S2 hingga S3, dirinya konsisten meneliti kebudayaan yang tumbuh dan hidup di masyarakat, terutama yang muncul melalui sastra lisan.

Menurutnya, sastra lisan bukan sekadar cerita atau tuturan, tetapi juga ruang tempat nilai, norma, tata krama, dan adat istiadat diwariskan dari generasi ke generasi. Beliau menegaskan bahwa mempelajari kebudayaan masyarakat itu penting, karena budaya menjadi dasar seseorang bertindak, bersikap, dan memandang kehidupan.

Contoh sederhana seperti memberi salam, salim kepada orang tua, hingga sopan santun saat berbicara, semuanya merupakan bagian dari kebudayaan yang perlu dipertahankan.

“Budaya masyarakat itu harus kita pahami dan jaga. Ada nilai adiluhung yang hidup di dalamnya,” jelasnya.

Relevansi Kajian Kebudayaan di Era Karya Sastra Kontemporer

Saat ini, banyak generasi muda lebih dekat dengan karya sastra kontemporer. Meski demikian, Dr. Ken menjelaskan bahwa karya-karya tersebut tetap tidak lepas dari latar budaya yang melandasinya. Bahkan, karya modern sering mengambil inspirasi dari budaya daerah, seperti cerita-cerita berlatar Jawa, Bugis, atau budaya lokal lainnya.

Dengan memahami budaya di balik sebuah karya sastra, mahasiswa akan lebih mudah memahami karakter, alur, dan pesan moral yang ingin disampaikan penulis. Misalnya, tokoh perempuan yang digambarkan anggun atau penuh sopan santun biasanya lahir dari nilai budaya tertentu yang melekat kuat pada masyarakatnya.

Menurut beliau, pemahaman budaya memberi pembaca kemampuan untuk melihat karya sastra lebih dalam. Tidak hanya membaca cerita, tetapi juga menangkap konteks sosial-budaya yang melatarinya.

Peluang Karier Lulusan S2 Susastra: Luas dan Terbuka

Dr. Ken juga menjelaskan tentang berbagai peluang karier bagi lulusan S2 Susastra, khususnya yang menekuni kajian kebudayaan.

Beberapa jalur karier yang sangat memungkinkan antara lain:

Dr. Ken bahkan menuturkan bahwa ada lulusan S2 Susastra FIB Undip yang kini berkarya di dunia perfilman dan bekerja sebagai asisten sutradara nasional. Hal ini membuktikan bahwa kajian kebudayaan bukan hanya penting dalam dunia akademik, tetapi juga sangat dibutuhkan di industri kreatif.

“Karya sastra itu muncul karena manusia berbudaya. Jadi ketika mahasiswa memahami budaya yang melatarinya, mereka bisa bekerja lebih luas, tidak hanya di dunia kampus,” tambahnya.

Belajar Sastra adalah Belajar Manusia dan Budayanya

Melalui wawancara ini, Dr. Ken kembali menegaskan bahwa mempelajari sastra berarti juga mempelajari manusia dan kebudayaan yang membentuknya. Kajian kebudayaan sastra lisan membantu mahasiswa memahami bagaimana nilai dan norma hidup di tengah masyarakat, lalu bagaimana hal itu muncul kembali dalam karya sastra, seni, maupun praktik kehidupan sehari-hari.

Dengan semakin berkembangnya industri kreatif dan meningkatnya kebutuhan akan konten berbasis budaya, lulusan S2 Susastra FIB Undip memiliki peluang besar untuk berkiprah di berbagai bidang yang memerlukan pemahaman budaya yang kuat.

FIB Undip akan terus mendukung pengembangan kajian kebudayaan melalui riset, pendidikan, dan ruang diskusi yang memperkaya pengetahuan mahasiswa terhadap warisan budaya Indonesia.

Share This!