
FIB UNDIP – Arus informasi di era digital bergerak sangat cepat. Dalam hitungan detik, sebuah kabar bisa menyebar luas tanpa sempat diverifikasi kebenarannya. Di tengah kondisi tersebut, hoaks menjadi salah satu tantangan serius yang perlu disikapi secara bijak. Menjawab persoalan ini, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro menghadirkan diskusi literasi informasi bersama Heriyanto, S.Sos., M.IM., Ph.D., Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi FIB Undip, melalui podcast Suara Budaya.
Dalam perbincangan yang hangat dan reflektif, Heriyanto mengajak pendengar untuk memahami hoaks secara lebih mendalam, tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari sudut pandang ilmu informasi dan psikologi manusia.
Memahami Hoaks dari Perspektif Ilmu Informasi
Heriyanto menjelaskan bahwa hoaks bukan sekadar berita yang keliru, melainkan informasi palsu yang sengaja dibuat untuk menyesatkan atau menggiring opini publik ke arah tertentu. Dalam ilmu perpustakaan dan informasi, hoaks bahkan tidak bisa disebut sebagai informasi.
“Informasi itu harus valid dan bermanfaat. Kalau hoaks, karena sifatnya menipu, maka ia masuk kategori fake news, bukan informasi,” jelasnya.
Secara etimologis, istilah hoaks diyakini berasal dari kata bahasa Inggris lama hocus, yang merujuk pada sesuatu yang palsu atau tiruan. Sejak awal kemunculannya, hoaks memang dirancang untuk menipu, bukan untuk memberi pengetahuan.
Hoaks dan Cara Kerjanya dalam Mempengaruhi Manusia
Hoaks tidak muncul tanpa tujuan. Menurut Heriyanto, setiap hoaks memiliki motif, mulai dari kepentingan ekonomi, politik, hingga sekadar mencari perhatian. Agar terlihat meyakinkan, hoaks kerap dikemas dengan visual menarik, potongan video, suara, bahkan mencatut figur tertentu.
Di sinilah aspek psikologis berperan besar. Banyak orang sebenarnya memiliki kemampuan literasi yang cukup, namun enggan atau malas melakukan verifikasi. Dorongan emosi sering kali membuat seseorang langsung percaya dan menyebarkan informasi tanpa berpikir panjang.
“Apalagi sekarang informasi sering diambil sepotong-sepotong. Konteksnya dihilangkan, tapi kesimpulannya digiring,” ujarnya.

Verifikasi dan Sikap Kritis Jadi Kunci Utama
Dalam menangkal hoaks, Heriyanto menekankan pentingnya verifikasi. Langkah sederhana seperti mengecek sumber berita dapat menjadi benteng awal untuk mencegah penyebaran informasi palsu.
Sumber resmi, institusi terpercaya, dan media yang kredibel menjadi rujukan penting. Sebaliknya, informasi dari akun anonim atau tidak jelas asal-usulnya patut dicurigai. Selain itu, sikap kritis perlu terus diasah, terutama terhadap informasi yang disajikan secara parsial dan provokatif.
Tak kalah penting, ia mengingatkan agar masyarakat lebih bertanggung jawab terhadap tombol share. Setiap informasi yang dibagikan membawa konsekuensi, baik secara sosial maupun hukum.
Ketika Informasi Terlalu Banyak: Fenomena Information Overload
Era digital juga membawa tantangan lain berupa information overload. Kondisi ini terjadi ketika seseorang menerima terlalu banyak informasi hingga mengalami kelelahan mental dan kesulitan mengambil keputusan.
Heriyanto menyebutkan bahwa kelelahan ini sering tidak disadari, namun dampaknya nyata. Fokus menurun, emosi mudah terpancing, dan kemampuan berpikir kritis melemah. Karena itu, manajemen waktu layar atau screen time menjadi kebutuhan penting agar konsumsi informasi tetap sehat.
Pesan untuk Generasi Muda: Kembali Berteman dengan Teks
Menutup diskusi, Heriyanto memberikan pesan khusus bagi generasi muda, termasuk Gen Z dan Gen Alfa. Meski dikenal mahir teknologi, kemampuan literasi tetap harus diimbangi dengan etika informasi dan landasan moral.
Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengandalkan konten instan dan visual semata. Membaca teks secara mendalam dinilai penting untuk memahami struktur persoalan dan konteks yang utuh.
“Untuk memahami masalah yang kompleks, kita perlu membaca, bukan hanya melihat kesimpulan,” pesannya.
Dengan berpikir kritis, sistematis, dan bijak, generasi muda diharapkan mampu menyaring informasi secara lebih sehat, tidak mudah terpengaruh hoaks, serta tetap berpijak pada realitas di tengah hiruk-pikuk dunia digital.
Simak selengkapnya di YouTube Fakultas Ilmu Budaya Undip: https://youtu.be/njtUUYmL3ig