Kisah Alumni FIB Undip: Dari Sastra Indonesia ke Dunia Konstruksi, Dobrak Stigma Lulusan Humaniora

Wulan Rizqi Ameilia, Alumni Sastra Indonesia FIB Undip 2017. (Foto: Humas FIB Undip)
Wulan Rizqi Ameilia, Alumni Sastra Indonesia FIB Undip 2017. (Foto: Humas FIB Undip)

FIB UNDIPĀ – Mempunyai ijazah Sastra Indonesia sering kali membuat seseorang langsung dikotakkan, kalau tidak jadi penulis, mungkin menjadi guru, editor, atau jurnalis. Padahal, industri kerja sekarang geraknya cepat sekali. Keterampilan menganalisis, kemampuan memahami dinamika sosial, serta cara berkomunikasi yang luwes justru makin dicari di banyak lini bisnis.

Wulan Rizqi Ameilia sudah membuktikan itu. Alumni Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB UNDIP) angkatan 2017 ini memperlihatkan bahwa latar belakang humaniora sama sekali tidak membatasi ruang gerak. Ia justru menggunakannya sebagai pijakan untuk masuk ke ranah yang bertolak belakang yaitu dunia konstruksi.

Terjun ke Lapangan dan Menjawab Tantangan Proyek

Setahun setelah lulus S1 pada 2021, Wulan mengambil keputusan yang cukup nekat. Ia melamar dan diterima di PT PP (Persero) Tbk, salah satu BUMN konstruksi raksasa di tanah air. Di sana, ia diserahi tugas mengawal Proyek Pembangunan Pipa Gas Bumi.

Dari 2022 sampai awal 2024, keseharian Wulan dihabiskan di lingkungan kerja yang didominasi insinyur dan tenaga teknis. Adaptasi tentu bukan perkara mudah ketika dikelilingi istilah-istilah rekayasa setiap hari. Namun, ketimbang minder, ia memilih membuktikan kapasitasnya.

Urusan tata kelola dokumen, kerapian administrasi, hingga kemampuan menjembatani komunikasi antardivisi ia tangani dengan rapi. Proyek pun berjalan lancar berkat hadirnya sosok yang bisa merekatkan ritme kerja tim. Dari situ Wulan sadar, kemahiran teknis (hard skills) memang krusial, tapi soft skills seperti komunikasi dan cara berpikir kritis adalah kunci yang menjaga semuanya tetap seimbang.

Lanjut S2 dan Selesai Lebih Cepat

Langkah Wulan tidak berhenti di lapangan. Pada 2024, ia kembali ke almamaternya untuk mengambil S2 Magister Ilmu Komunikasi UNDIP. Langkah ini ia ambil untuk memperdalam teori dari apa yang sudah ia jalani secara praktis selama bekerja.

Hasilnya tak main-main. Wulan membereskan magisternya cuma dalam tempo 1 tahun 10 bulan. Ia resmi jadi satu dari enam lulusan tercepat di antara sekitar 50 mahasiswa di angkatannya.

Topik tesis yang ia susun pun berangkat dari riwayat kerjanya sendiri yaitu menguliti posisi dan peran perempuan di industri konstruksi lewat sudut pandang komunikasi dan gender. Pengalaman bertahun-tahun di proyek BUMN ia racik jadi tulisan ilmiah yang berbobot.

“Ilmu Sastra Itu Bekal, Bukan Penjara”

Menyelesaikan jenjang S1 hingga S2 di kampus yang sama membuat Wulan ingin membagikan sudut pandangnya kepada sesama alumni maupun adik tingkat di FIB UNDIP. Ia berharap makin banyak lulusan sosiokultural yang berani melompati pagar dan mencoba karier di luar jalur umum.

Menurut Wulan, apa yang dipelajari di bangku kuliah hendaknya tidak diartikan sebagai batasan karier, melainkan fondasi untuk beradaptasi di mana saja.

“Saya mau membuktikan kalau lulusan Sastra Indonesia tidak dikurung oleh nama gelarnya. Semua balik lagi ke keberanian kita untuk belajar hal baru. Sastra itu melatih kita memahami manusia, dan modal itu bakal terpakai di mana pun kita kerja,” tutur Wulan.

Cerita perjalanan Wulan menegaskan kembali peran FIB UNDIP dalam mencetak lulusan. Bukan sekadar melahirkan akademisi, tetapi juga membentuk figur yang tangguh, cepat menyesuaikan diri, dan siap masuk ke sektor mana pun tanpa kehilangan identitas humanioranya. 

Share This!