Dari Sastra ke Posthumanisme: Kajian Inovatif dan Kritis di Prodi Sastra Inggris FIB UNDIP
Pendapat Fitrilya Anjarsari, S.S., M.A. (fitrilyaanjarsari@lecturer.undip.ac.id)
Posthumanisme mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang, namun konsep ini memiliki relevansi yang sangat luas, terutama dalam dunia sastra dan filsafat. Untuk memahami lebih dalam mengenai posthumanisme dalam sastra, Tim Humas FIB Undip berkesempatan mewawancarai Fitrilya Anjarsari, S.S., M.A., dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP).
Sebagai dosen FIB Undip yang memiliki kepakaran di bidang posthumanisme sastra, beliau membagikan pandangannya mengenai konsep ini serta kaitannya dengan perkembangan pemikiran manusia, dunia sastra, dan masa depan mahasiswa yang ingin berkarier di bidang ini.
Apa Itu Posthumanisme?
Menurut Fitrilya Anjarsari, posthumanisme adalah suatu cabang pemikiran yang kompleks yang menekankan kesetaraan, tidak hanya di antara manusia tetapi juga dengan alam semesta. Dalam kajian ini, terdapat dua cabang utama, yaitu posthumanisme filosofis dan transhumanisme.
“Saya sendiri lebih fokus pada posthumanisme filosofis dalam sastra yang erat kaitannya dengan filsafat dan cara berpikir kritis,” ungkapnya.
Salah satu konsep utama dalam posthumanisme adalah difraksi, yaitu metode berpikir yang menekankan perspektif yang lebih luas dan tidak terjebak dalam satu sudut pandang saja. Melalui pendekatan ini, posthumanisme mengajarkan cara berpikir yang lebih terbuka terhadap perubahan dan keberagaman.

Fitrilya Anjarsari, S.S., M.A., dosen Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (UNDIP).
Mengapa Posthumanisme Relevan di Masa Kini?
Ketika ditanya mengenai relevansi posthumanisme bagi mahasiswa, Fitrilya Anjarsari menjelaskan bahwa bidang humaniora memiliki peran penting dalam memperluas pemikiran manusia.
“Humaniora berfungsi untuk membuka wawasan dan melatih pemikiran kritis. Kita harus memahami bahwa kebudayaan dan pemikiran manusia selalu berkembang. Oleh karena itu, kita tidak bisa hanya menerima sesuatu sebagai kebenaran mutlak tanpa mengkajinya lebih dalam,” jelasnya.
Dalam dunia yang terus berubah, kemampuan berpikir kritis sangat diperlukan, terutama dalam sistem demokrasi yang sehat. Dengan memahami konsep posthumanisme, mahasiswa FIB Undip dapat lebih peka terhadap isu-isu sosial dan budaya yang ada di sekitar mereka.
Peluang Karier bagi Lulusan Sastra Inggris dengan Kepakaran Posthumanisme
Salah satu pertanyaan yang sering muncul dari calon mahasiswa Sastra Inggris adalah ‘Bagaimana peluang karier setelah lulus?’ Menjawab hal ini, Fitrilya Anjarsari menegaskan bahwa mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis tidak perlu takut terhadap masa depan mereka.
“Jika kita sudah memiliki pola pikir yang kritis, kita tidak akan takut dengan pertanyaan ‘mau jadi apa nanti?’. Ada banyak peluang karier yang bisa dijalani, mulai dari bidang bahasa Inggris, penulisan kreatif (creative writing), jurnalisme, kritik sastra, akademisi, hingga pekerjaan di kedutaan besar atau delegasi negara,” terangnya.
Lebih dari sekadar teori, pengalaman selama kuliah juga sangat penting dalam membentuk keahlian mahasiswa. Oleh karena itu, aktif dalam diskusi dan organisasi akan memberikan nilai tambah yang besar bagi masa depan mereka.
Peran Fitrilya Anjarsari dalam Pengembangan Mahasiswa
Selain mengajar di kelas, Fitrilya Anjarsari juga aktif dalam membina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Republics di FIB UNDIP. UKM ini menjadi wadah bagi para pemuda kritis untuk membahas berbagai isu sosial dan budaya.
Salah satu mata kuliah yang paling menarik dari beliau adalah kelas drama yang tidak hanya mengajarkan teori tetapi juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kreativitas dan pemahaman mendalam tentang sastra.
Posthumanisme: Alat Memahami Dunia Secara Lebih Luas dan Kritis
Posthumanisme dalam sastra bukan hanya teori akademik semata, tetapi juga alat untuk memahami dunia secara lebih luas dan kritis. Dengan belajar posthumanisme, mahasiswa Sastra Inggris dapat mengembangkan pola pikir yang lebih terbuka dan siap menghadapi tantangan dunia kerja.
Bagi calon mahasiswa yang ingin mendaftar di Program Studi Sastra Inggris FIB UNDIP, memahami konsep ini dapat menjadi nilai tambah yang berharga. Dengan bimbingan dari dosen berpengalaman seperti Fitrilya Anjarsari, mahasiswa tidak hanya akan mendapatkan ilmu di kelas, tetapi juga pengalaman nyata yang akan berguna di masa depan.
Dekan Fakultas Ilmu Budaya UNDIP, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum., turut memberikan apresiasi terhadap kajian posthumanisme yang dikembangkan oleh Fitrilya Anjarsari, S.S., M.A. di lingkungan akademik. Menurut beliau, kajian ini memberikan kontribusi besar dalam mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis, memahami perubahan zaman, dan mengembangkan wawasan yang lebih luas terhadap isu-isu humaniora modern.