Mengungkap Jalan Raya Pantura: Kriminalitas dan Patologi Sosial yang Terlupakan dalam Sejarah
Pendapat Prof. Dra. Endah Sri Hartatik, M. Hum. (endahwasino@gmail.com)
Jalan Raya Pantura telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Indonesia, terutama sejak awal abad ke-20 hingga masa Orde Baru. Lebih dari sekadar jalur transportasi utama, jalan ini telah membentuk dinamika sosial, ekonomi, dan bahkan kriminalitas yang berkembang di sepanjang jalurnya. Tim Humas FIB Undip berkesempatan mewawancarai Prof. Dra. Endah Sri Hartatik, M. Hum., yang merupakan Guru Besar Sejarah Undip dengan kepakaran sejarah Indonesia khususnya menyoroti aspek-aspek tersembunyi dari kehidupan di jalan raya, termasuk kejahatan seperti bajing loncat, pemalakan, serta fenomena sosial yang jarang diteliti dalam perspektif historis.
Jalan Raya dan Lahirnya Kriminalitas
Jalan Raya Pantura tidak hanya menjadi jalur perdagangan dan distribusi barang tetapi juga melahirkan berbagai bentuk kejahatan yang unik. Beberapa fenomena yang mencolok antara lain:
-
Bajing Loncat
Bajing loncat adalah modus kejahatan yang sering terjadi di Pantura, di mana para pelaku mencuri barang dari truk yang sedang melaju atau berhenti. Operasi ini dilakukan dengan strategi matang, sering kali melibatkan kelompok yang memiliki tugas masing-masing seperti sopir pengalihan, eksekutor pencurian, dan mobil backup untuk membawa barang curian.
-
Premanisme dan Makelar di Terminal
Terminal bus dan truk menjadi tempat berkembangnya premanisme dalam bentuk makelar atau calo. Makelar tersebut bekerja dengan menawarkan jasa perantara perjalanan. Prof. Endah menyoroti bahwa para makelar ini dulunya adalah preman yang “diopeni” atau dibiarkan beroperasi selama mereka tetap mengikuti aturan tidak tertulis yang berlaku di wilayah tersebut.
-
Perampokan dan Pemalakan
Beberapa titik di Pantura dikenal rawan perampokan, terutama di daerah sepi atau di pemberhentian darurat. Sopir-sopir truk sering kali bepergian dalam kelompok untuk menghindari kejahatan ini. Mereka memiliki strategi khusus seperti berkendara secara beriringan agar lebih aman dari serangan kelompok kriminal.
Patologi Sosial di Sepanjang Jalan Raya
Selain kejahatan, jalan raya juga menjadi tempat berkembangnya berbagai fenomena sosial yang jarang diteliti dalam perspektif sejarah.
-
Pijat Plus dan PSK Terselubung
Beberapa tempat peristirahatan sementara sopir di Pantura sering kali menawarkan layanan pijat yang terselubung dengan praktik prostitusi. Hal ini mencerminkan bagaimana jalan raya tidak hanya menjadi tempat lalu lintas barang dan manusia, tetapi juga berbagai praktik sosial yang berkembang di sekitarnya.
-
Fenomena Poligami Sopir
Salah satu hasil wawancara menarik yang dilakukan oleh Prof. Endah adalah kebiasaan beberapa sopir yang memiliki lebih dari satu istri di kota-kota berbeda. Dengan memberikan modal usaha kecil seperti warung atau kios, mereka memastikan bahwa istri-istri mereka tetap memiliki penghasilan, sementara mereka terus melanjutkan perjalanan mereka di jalan raya.
-
Grafiti dan Jargon Sopir
Tulisan-tulisan unik di bak truk seperti “Dua Istri Benjut” atau “Selalu Ingat Ibu” bukan sekadar hiasan, tetapi juga mencerminkan kondisi sosial dan psikologis para sopir. Jargon-jargon ini sering kali berisi pesan humor, spiritualitas, atau sekadar refleksi dari kehidupan keras di jalan raya.

Prof. Dra. Endah Sri Hartatik, M. Hum.
Dampak Perubahan Infrastruktur terhadap Kehidupan di Jalan Raya
Dengan dibangunnya Jalan Tol Trans-Jawa, kehidupan di sepanjang jalan raya Pantura mengalami perubahan drastis. Beberapa dampaknya meliputi:
- Matinya Ekonomi Lokal: Warung makan, bengkel, dan kios bensin yang dulu hidup dari lalu lintas kendaraan di Pantura kini sepi karena banyak pengemudi lebih memilih jalur tol yang lebih cepat dan efisien.
- Migrasi Kriminalitas: Dengan berkurangnya aktivitas di jalan raya lama, kejahatan pun mulai berpindah ke tempat lain, terutama ke titik-titik yang masih ramai dilalui kendaraan. Contohnya Bajing loncat sebuah modus kejahatan yang sering terjadi di Pantura, di mana para pelaku mencuri barang dari truk yang sedang melaju atau berhenti.
- Perubahan Pola Perjalanan: Jika dahulu sopir truk memiliki banyak tempat untuk berhenti dan beristirahat, kini mereka lebih banyak bergantung pada rest area di jalan tol yang jumlahnya terbatas.
Riset Temuan Baru
Menurut Prof. Endah, berdasarkan riset jalan raya juga menyumbang munculnya penyakit. Contohnya saat banjir mengakibatkan gatal-gatal, kolera, dan lain-lan. Hal ini sangat menarik untuk dikaji dan dikaitkan dengan perspektif sejarah.
Dukungan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro
Berikut adalah tanggapan Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Diponegoro (Undip), Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum., yang mendukung penuh kajian Prof. Endah dari data yang tersedia:
“Kami di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro sangat mendukung penelitian yang dilakukan oleh Prof. Endah. Kajian beliau memiliki signifikansi yang tinggi dalam bidang ilmu budaya dan memberikan kontribusi besar bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Kami berharap hasil dari penelitian ini dapat menjadi rujukan akademis yang bermanfaat bagi masyarakat luas serta mendorong penelitian-penelitian serupa di masa mendatang.”
Jalan Raya Pantura bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga ruang sosial yang menyimpan banyak kisah tentang kehidupan, kejahatan, dan adaptasi manusia terhadap perubahan infrastruktur. Melalui penelitian Prof. Endah Sri Hartatik, kita dapat melihat bagaimana sejarah jalan raya tidak hanya tentang pembangunan fisik, tetapi juga tentang dinamika sosial yang berkembang di dalamnya.
Kajian Jalan Raya Pantura seperti ini penting untuk memahami bagaimana infrastruktur mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bagaimana perubahan kebijakan dapat membawa dampak besar terhadap ekonomi dan keamanan di jalan raya.