Monolog “Eling lan Waspada”, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum., di National Anti Fraud Conference 2026

Monolog "Eling lan Waspada", Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum. (Foto: Humas FIB Undip)
Monolog “Eling lan Waspada”, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum. (Foto: Humas FIB Undip)

FIB UNDIP – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan sistem pengawasan digital, praktek kecurangan (fraud)masih menjadi tantangan besar di masyarakat.

Berangkat dari fenomena tersebut, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip), Prof. Dr. Alamsyah, S.S., M.Hum., menyampaikan perspektif menarik melalui pertunjukan Monolog Kebudayaan bertajuk “Eling lan Waspada”.

Penampilan berkesan tersebut dibawakan dalam gelaran National Anti Fraud Conference (NAFC) 2026 yang berlangsung secara luring di PO Hotel, Semarang, pada Kamis, 10 September 2026.

Integritas Dimulai dari Kesadaran Batiniah

Dalam pemaparannya, Prof. Alamsyah menekankan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan sistem kontrol yang canggih tidak otomatis menghapus niat atau tindakan kecurangan.

Secanggih apa pun sistem pengawasan lahiriah yang dirancang, pondasi utama integritas tetap bermuara pada kesadaran batiniah masing-masing individu.

Nilai eling (ingat) menggarisbawahi pentingnya kesadaran mendalam atas jati diri, asal-usul, serta batasan wewenang.

Kesadaran ini menjadi benteng agar seseorang tidak terbuai oleh jabatan atau menyalahgunakan kekuasaan demi kepentingan pribadi.

Enam Langkah Mawas Diri dari Falsafah Jawa

Melengkapi konsep eling, Prof. Alamsyah membagikan prinsip waspada sebagai panduan praktis dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam dunia kerja.

Beliau memaparkan enam langkah introspeksi diri seperti mulai dari mawas (introspeksi) hingga mirsani maneh (evaluasi berkesinambungan).

Langkah-langkah praktis ini bertujuan menjaga diri dari perangkap kesombongan klasik yang sering memicu kecurangan, yakni watak Adigang, Adigung, Adiguna ( mengandalkan kekuatan, kekuasaan, dan kelebihan secara berlebihan).

Menolak Pembenaran Pelanggaran Kecil demi Keharmonisan Bersama

Menjelang akhir monolognya, beliau mengajak seluruh peserta konferensi untuk tidak menoleransi atau membenarkan pelanggaran-pelanggaran kecil yang kerap dianggap sepele.

Melalui pilar falsafah Jawa seperti Ojo Dumeh (jangan sombong/sewenang-wenang) dan Tepa Selira (tenggang rasa), integritas dapat dipelihara secara konsisten.

Pesan ini bermuara pada cita-cita luhur Memayu Hayuning Bawana, yaitu komitmen bersama untuk menjaga, merawat, dan menciptakan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat.

Tonton Tayangan Selengkapnya

Bagi Warga FIB, yuk simak kehangatan serta kedalaman pesan dari Monolog Kebudayaan ini, tayangan lengkapnya sudah dapat disaksikan melalui saluran YouTube @Fakultas Ilmu Budaya Undip.

Silakan tonton selengkapnya di kanal YouTube @Fakultas Ilmu Budaya Undip: https://youtu.be/7jZyjArcBdc. 

Jangan lupa untuk berikan like, tinggalkan pendapatmu di kolom comment, serta subscribe agar tidak ketinggalan informasi dan konten budaya menarik lainnya yaa, Dips!

Share This!