
FIB UNDIP – Setiap orang memiliki ritme petualangannya masing-masing. Bagi Windi Susetyo Ningrum, alumni Sastra Indonesia FIB Undip angkatan 2010, perjalanan hidup adalah tentang keberanian mengetuk pintu-pintu baru, meski pintu tersebut tampak asing dan menantang.
Lahir di Sleman pada Juli 1992, Windi tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan mudah beradaptasi. Kecintaannya pada adat istiadat dan bahasa membawanya ke jurusan Sastra Indonesia Undip dengan peminatan Filologi. Di sinilah akar intelektualnya terbentuk, hingga ia berhasil lulus sebagai wisudawan terbaik pada tahun 2015 dengan predikat Cumlaude.
Titik Balik: Antara Idealisme dan Realita
Pasca-wisuda, realita dunia kerja tidak selalu semulus yang dibayangkan. Sambil menunggu panggilan kerja tetap, Windi mengisi waktunya menjadi guru bantu di sebuah TK di Tembalang. Namun, dorongan untuk belajar tidak pernah padam. Atas inspirasi dari dosen-dosennya di Undip, Prof. Mudjahirin Thohir dan Prof. Agus Maladi, ia memutuskan melompat ke bidang baru yaitu Antropologi di Universitas Indonesia.
“Kalau gampang, semua orang bisa,” kenang Windi menirukan pesan ayahnya saat ia nyaris menyerah menghadapi sulitnya transisi dari Sastra ke Antropologi. Kalimat sederhana itu menjadi bahan bakar yang membawanya meraih gelar Magister pada tahun 2018.
Membangun “Athena” dari Titik Nol
Ujian sesungguhnya datang setelah lulus S2. Merasa kehilangan arah dan sempat berada di titik nol, Windi mengikuti saran sang ayah untuk mulai mengajar les secara mandiri di Semarang. Dengan modal nekat dan bantuan kawan lama, ia mulai mencari murid satu per satu.
Siapa sangka, berawal dari niat “agar tidak menganggur”, ketulusan Windi dalam mendidik justru membuahkan hasil. Muridnya bertambah banyak hingga ia berhasil mendirikan bimbingan belajar resmi bernama Athena. Di sini, Windi belajar kesabaran luar biasa, menghadapi berbagai karakter anak, mulai dari yang sangat cepat menangkap materi hingga anak-anak dengan kebutuhan khusus.
Merantau ke Kalimantan dan Amanah “Unggul”
Tuhan memiliki rencana yang lebih besar. Setelah berkali-kali mencoba peruntungan di CPNS, doa Windi dan restu bapaknya yang kini telah tiada membawanya lolos sebagai dosen di Universitas Palangka Raya.
Merantau ke pulau seberang memberinya culture shock yang hebat, mulai dari cuaca hingga fasilitas yang jauh berbeda dengan di Jawa. Namun, pengalaman mendidik anak-anak di bimbel Athena ternyata menjadi modal berharga saat menghadapi mahasiswa dengan latar belakang budaya yang beragam.
Kini, Windi dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jurusan. Salah satu pencapaian membanggakannya adalah saat ia berhasil mengawal proses akreditasi jurusannya hingga meraih predikat UNGGUL.
Pesan untuk Diponegoro Muda
Menutup kisahnya, Windi menitipkan pesan hangat bagi adik-adik tingkatnya di FIB Undip:
“Di Undip, fasilitas jauh lebih baik daripada di sini tempat saya mengajar. Maka semangatlah dan sungguh-sungguhlah mencari ilmu. Kalian jauh lebih beruntung, manfaatkanlah itu dengan sebaik-baiknya.”
Kisah Windi mengajarkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar tentang gelar, tapi tentang bagaimana ilmu tersebut menjadikan kita manusia yang bermanfaat bagi sesama, di mana pun kaki berpijak.