Social Anthropology Summer Course FIB Undip 2026 Successfully Held with the Theme “Race, Migration, and Multiculturalism”

Summer Course Social Anthropology FIB Undip 2026. (Photo: Humas FIB Undip)
Summer Course Social Anthropology FIB Undip 2026. (Photo: Humas FIB Undip)

FIB UNDIP – Dunia kita hari ini terus bergerak cepat, membawa perubahan sosial yang begitu dinamis, terutama soal bagaimana manusia berpindah melintasi batas-batas negara.

Menanggapi fenomena global ini, Program Studi Antropologi Sosial Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip) baru saja sukses menggelar Summer Course 2026 dengan tema yang sangat relevan yaitu “Race, Migration, and Multiculturalism”.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari intensif, mulai 4 hingga 6 Mei 2026 ini, dibuka secara hangat oleh Dekan FIB Undip, Prof. Dr. Alamsyah, M.Hum. Melalui ruang virtual, beliau berpesan betapa pentingnya bagi kita untuk mendiskusikan nasib dan isu kemanusiaan yang dihadapi komunitas migran di berbagai penjuru dunia saat ini.

Menghadirkan Perspektif Keren dari Pakar Dunia

Summer course kali ini terasa begitu istimewa karena kedatangan deretan pakar internasional yang luar biasa di bidangnya. Pada hari pertama, Dr. Gurpreet Kaur dari SOAS University of London membuka cakrawala peserta mengenai kaitan erat antara kesehatan global dan migrasi. Tak berhenti di situ, Tetiana Storozhko (CEO & Co-Founder TENET) melanjutkan diskusi dengan narasi menarik seputar transformasi sosial yang tengah terjadi.

Summer Course Social Anthropology FIB Undip 2026. (Photo: Humas FIB Undip)
Summer Course Social Anthropology FIB Undip 2026. (Photo: Humas FIB Undip)

Memasuki hari kedua, antusiasme peserta semakin terasa di Gedung D Lantai 3 FIB Undip yang digelar secara hybrid. FIB Undip kedatangan Dr. Eric C. Thompson dari National University of Singapore yang membedah dinamika masyarakat di Asia Tenggara secara mendalam. Sebagai penutup di hari ketiga, Prof. Neha Vora dari American University of Sharjah mengajak kita semua memahami lebih jauh tentang realitas multikulturalisme di wilayah Teluk.

Ruang Belajar yang Inklusif di Era Digital

Meskipun jarak memisahkan melalui layar daring dan skema hybrid, kualitas diskusi tidak sedikit pun berkurang. Peserta dibekali dengan berbagai materi bacaan pilihan yang bisa diakses secara mandiri untuk memperkaya wawasan.

Menariknya, program ini tidak hanya menjadi wadah belajar bagi mahasiswa lokal, tetapi juga menjadi magnet bagi para peneliti muda internasional untuk saling bertukar pikiran dalam bahasa Inggris secara lugas dan terbuka.

Melalui penyelenggaraan Summer Course 2026 ini, Antropologi Sosial FIB Undip kembali membuktikan komitmennya untuk terus memfasilitasi dialog kritis terkait isu sosial-kemanusiaan global.

Semoga hasil diskusi ini bisa memberikan kontribusi nyata dalam upaya kita memahami keragaman dan memperjuangkan keadilan bagi para migran di mana pun mereka berada.

Share This!